Satu-satunya Cara Agar Bebas dari Writer’s Block Adalah Tetap Menulis

Ini cerita awal tahun 2020 lalu. Waktu itu sudah jam 3 sore. Saya masih terpaku di depan laptop untuk membuat beberapa caption Facebook Ads.

Biasanya saya hanya butuh 15 menit untuk menulis tiga caption Facebook Ads dengan tiga sudut padang berbeda. Namun saat itu sungguh 1 caption saja rasanya sulit. Ke mana pun imajinasi saya pergi, selalu saja menemui jalan buntu. Insecure sendiri. Nggak yakin caption tersebut bisa mendatangkan traffic yang banyak atau tidak.

Problem ini sering banget saya rasakan ketika sedang menulis konten. Menjaga konsistensi agar mood tetap stabil selalu jadi pekerjaan rumah yang berat buat saya.

Saya sampai mencari tahu, sebenarnya apa sih yang harus dilakukan penulis jika sedang terjebak writer’s block?

Dari banyak artikel, saya menemukan tips untuk mengatasi writer’s block. Isinya sangat normatif:

  • Bersantai sambil menjauhi urusan tulis-menulis
  • Menonton film/serial/apapun yang ada di YouTube
  • Keluar untuk berolahraga/jalan-jalan sebentar
  • Tidur beberapa menit
  • Makan/minum sesuatu yang membuat nyaman

Semuanya sudah saya coba namun tetap saja saya “ketempelan” writer’s block. Pada dasarnya saya memang mudah sekali terganggu sih, bahkan dengan hal kecil sekalipun. Misal, lagi fokus menulis, tiba-tiba dipanggil untuk membeli telur di warung, bisa rusak mood saya seketika. Makanya agak sulit bagi saya untuk bisa kembali menulis dengan mood yang sama.

Salah satu artikel di Writing Routines membahas profil Jurnalis Esquire, Cal Fussman. Ia pernah mewawancara banyak tokoh besar. Dari mendiang Muhammad Ali sampai seorang miliyarder pemiliki situs Amazon, Jeff Bezos. Diceritakan bahwa Cal Fussman bahkan butuh 10 tahun untuk merampungkan artikel “Cocktails Before the Collapse” — cerita pengalamannya pasca kejadian 9/11 di Amerika Serikat, yang mendapatkan penghargaan James Beard Foundation(2011). Sepanjang 10 tahun ia benar-benar buntu dan pada akhirnya ia mengalihkan fokus untuk tetap bekerja, menjadi pembicara talkshow di beberapa negara, mewawancara orang-orang ternama, dan tentu saja menulis hal-hal lain.

Bahkan sekelas Cal Fussman saja tidak punya solusi atau pola khusus agar ia tidak terjebak di lingkaran hitam writer’s block.

Kebetulan sejak 2018, saya punya proyek media musik rock bernama JengJengJet. Di sana saya sangat menikmati proses menulis apapun yang berbau musik rock.

Butuh 2 tahun untuk menyadarinya sejak proyek iseng ini lahir. Ternyata saya bisa keluar dari lingkaran hitam writer’s block karena saya tidak berhenti menulis. Hanya saja yang saya tulis adalah hal-hal yang saya suka. Energi yang saya keluarkan untuk menulis narasi dalam sebuah caption saya limpahkan sekian persen untuk menulis hal-hal yang saya sukai.

Setiap saya buntu, saya selalu membuka laman Instagram JengJengJet untuk menulis musik. Semacam penyegaran, karena saya selalu senang menulis di sana. Tanpa tekanan KPI yang harus dicapai. Tanpa beban engagement konten supaya performa laman Instagram JengJengJet tidak menurun.

Intinya, kalau ketemu jalan buntu saat menulis, ya jangan berhenti nulis, karena di dunia ini nggak akan pernah ada solusi untuk melawan writer’s block. Hah!

Foto: Pexels.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s